PGK Sumsel: Jangan Tunggu Api Membesar, Karhutla Harus Dicegah Sejak Awal

PALEMBANG, SRIWIJAYATERKINI.CO — Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Sumatera Selatan menyampaikan keprihatinan atas masih terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.
PGK Sumatera Selatan menilai Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, keselamatan warga, aktivitas ekonomi, pendidikan, serta kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.
Ketua PGK Sumatera Selatan, Firdaus Hasbullah, S.H., M.H., mengatakan penanganan Karhutla tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat penegak hukum.
Menurutnya, diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia usaha dan perusahaan yang menjalankan aktivitas di Sumatera Selatan.
“Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya menyangkut kesehatan, keselamatan, pendidikan, aktivitas ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah dan aparat. Semua pihak harus mengambil tanggung jawab, termasuk perusahaan yang beroperasi di wilayah rawan Karhutla,” ujar Firdaus.
PGK Sumatera Selatan menyerukan kepada seluruh perusahaan, khususnya perusahaan yang memiliki aktivitas usaha dan konsesi di wilayah rawan Karhutla, agar mengambil bagian secara aktif dalam upaya pencegahan maupun penanganan kebakaran.
Firdaus menegaskan, langkah pertama yang harus diperkuat adalah pencegahan. Perusahaan harus memastikan wilayah kerja dan area yang menjadi tanggung jawabnya memiliki sistem pencegahan Karhutla yang memadai, mulai dari kesiapsiagaan personel, sarana pemantauan, peralatan pemadaman, hingga mekanisme respons cepat ketika ditemukan titik api.
“Jangan menunggu api membesar baru bergerak. Perusahaan harus memastikan personel, peralatan, sistem pemantauan, dan mekanisme respons cepat benar-benar siap. Pencegahan harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Selain itu, PGK Sumsel mendorong perusahaan untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, aparat, organisasi masyarakat, serta elemen kepemudaan dalam melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembakaran hutan dan lahan secara sembarangan.
Menurut Firdaus, sosialisasi tidak boleh dilakukan hanya ketika musim Karhutla tiba, tetapi harus dilaksanakan secara masif dan berkelanjutan, terutama di wilayah yang setiap tahun memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi.
“Edukasi kepada masyarakat harus dilakukan secara terus-menerus. Jangan hanya muncul ketika kebakaran sudah terjadi. Pemerintah, perusahaan, masyarakat, organisasi pemuda, dan seluruh elemen harus bersama-sama membangun kesadaran bahwa mencegah Karhutla jauh lebih penting daripada sekadar memadamkannya,” katanya.
PGK Sumsel juga meminta perusahaan ikut mengambil bagian ketika Karhutla terjadi dan membutuhkan penanganan. Perusahaan diharapkan dapat mengerahkan sumber daya yang dimiliki, baik personel, peralatan, kendaraan, sumber air, maupun dukungan lainnya sesuai dengan ketentuan dan kewenangan masing-masing.














