Keluarga Anton Bantah Kabar Anak Sakit Jadi Pemicu ASN Inspektorat OKI yang Tewas Dibunuh Istri

OKI, SRIWIJAYATERKINI.CO – Keluarga Anton (32), ASN Inspektorat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), membantah kabar yang menyebut kondisi kesehatan anak menjadi pemicu terjadinya penikaman terhadap korban oleh istrinya, Deka Ayu (30).
Anton meninggal dunia setelah mengalami luka akibat penikaman dalam peristiwa rumah tangga yang kini masih berproses secara hukum. Di tengah penanganan perkara tersebut, keluarga korban memilih memberikan penjelasan mengenai kondisi keluarga Anton sebelum kejadian.
Kakak kandung Anton, Andre (38), memastikan kedua anak Anton dan Deka dalam kondisi sehat. Ia membantah informasi yang menyebut salah satu anak korban sedang sakit dan membutuhkan biaya pengobatan.
“Tidak, tidak ada yang sakit, semua (kedua anaknya) sehat,” kata Andre saat ditemui di kediamannya, Selasa (22/9/2026) sore.
Menurut Andre, anak kedua Anton yang masih berusia sekitar tujuh bulan memang menangis ketika insiden penikaman berlangsung. Namun, ia menegaskan tangisan tersebut bukan karena anak sedang mengalami demam atau penyakit.
Andre mengatakan bayi tersebut justru mengalami luka pada bagian jari ketika insiden terjadi.
“Tapi bukan karena sakit demam, lantaran jarinya ikut tersayat pisau saat pelaku (sang ibu) beringas menusuk ayahnya,” ujarnya.
Keluarga Ungkap Kondisi Rumah Tangga ASN Inspektorat OKI
Selain membantah kabar mengenai anak sakit, keluarga Anton mengungkap kondisi rumah tangga korban dengan Deka Ayu sebelum peristiwa penikaman.
Andre menyebut hubungan keduanya sudah mengalami persoalan hingga mereka disebut telah pisah ranjang.
Setelah itu, Anton disebut memilih meninggalkan rumah dan tinggal bersama anak sulungnya di kediaman orangtuanya di Kecamatan SP Padang. Sementara Deka tetap tinggal di Kayuagung.
Menurut Andre, persoalan rumah tangga Anton dan Deka sebelumnya sempat dibawa ke proses mediasi melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).
Dalam mediasi tersebut, kata Andre, persoalan nafkah juga menjadi salah satu pembahasan.
Andre menyebut Deka meminta uang bulanan sebesar Rp9 juta dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan anak kedua mereka yang masih berusia sekitar tujuh bulan.
“Pelaku menuntut uang bulanan sebesar Rp9 juta dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan anak kedua mereka yang baru berusia tujuh bulan,” ungkap Andre.
Namun, menurut Andre, Anton keberatan dengan nominal tersebut karena penghasilannya sebagai ASN dinilai tidak mencukupi.
Meski demikian, keluarga menyebut Anton tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Pada Agustus 2026, Anton disebut telah mentransfer uang sebesar Rp11 juta kepada istrinya.
Andre juga mengklaim kondisi keuangan korban sempat mengalami tekanan. Menurut dia, Anton bahkan menggunakan pinjaman online untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut.
Dua Hari Sebelum Penikaman, Anton Konsultasi Perceraian
Keluarga Anton juga mengungkap bahwa korban sempat berkonsultasi dengan penasihat hukum dua hari sebelum peristiwa penikaman.
Saat itu, Anton datang bersama Andre untuk membicarakan rencana perceraian. Konsultasi tersebut, menurut Andre, juga berkaitan dengan dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang disebut dialami korban.
Andre mengatakan keluarga telah menyiapkan sejumlah bukti yang mereka kaitkan dengan dugaan KDRT tersebut.
Salah satunya berupa luka memar pada kedua paha Anton. Keluarga menduga luka tersebut akibat pukulan menggunakan benda tumpul.
Andre menyebut helm sebagai salah satu benda yang menurut keluarga diduga digunakan untuk memukul korban.
“Dua hari sebelum kejadian penusukan merupakan hari terakhir saya bertemu dengan adik saya. Kami ke penasihat hukum untuk konsultasi terkait KDRT yang dialami adik saya serta proses perceraian yang akan dijalani,” tutur Andre.
Hubungan Deka dengan Keluarga Anton Disebut Kurang Harmonis
Andre selanjutnya menceritakan hubungan Deka dengan keluarga besar Anton ketika keduanya sempat tinggal bersama orangtua korban di SP Padang.
Menurut Andre, Anton dan Deka pernah tinggal di rumah orangtua korban selama kurang lebih satu tahun. Namun, ia menyebut hubungan Deka dengan keluarga besar Anton tidak terlalu dekat.
Andre mengklaim Deka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar dan jarang berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya.
“Kalau korban sedang berkumpul bersama keluarga di depan rumah, ia (pelaku) langsung mengirim WhatsApp agar adik saya cepat masuk ke rumah,” kata Andre.
Ia juga menyebut Deka tidak hadir ketika ayah Anton meninggal dunia. Bahkan, menurut Andre, Deka juga tidak hadir dalam peringatan 40 hari wafatnya ayah korban.
Keluarga Minta Kematian Anton Diungkap Menyeluruh
Anton kini telah meninggal dunia dan meninggalkan dua anak yang masih kecil. Sementara perkara yang melibatkan Deka Ayu masih dalam proses hukum.
Keluarga mengatakan menyerahkan penanganan perkara sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. Namun, mereka berharap seluruh rangkaian peristiwa yang melatarbelakangi kematian ASN Inspektorat OKI tersebut dapat diungkap secara menyeluruh.
Andre berharap penyidik tidak hanya mengungkap peristiwa penikaman, tetapi juga menelusuri berbagai hal yang terjadi sebelum kejadian.
“Kami berharap semoga pihak kepolisian mengungkap kasus ini, apakah ada unsur perencanaan atau ada keterlibatan orang lain,” pungkas Andre.
Keterangan mengenai dugaan KDRT, persoalan nafkah, kondisi rumah tangga, serta kemungkinan adanya unsur lain dalam perkara ini merupakan keterangan dari pihak keluarga korban. Berbagai dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui proses penyelidikan dan persidangan.(DHO)








