Festival Jajanan Bingen 2026, Dewi Sastrani Kenalkan Kuliner Tempo Dulu

Sementara itu, Ketua TP PKK Sumatera Selatan, Febrita Lustia Herman Deru atau Feby Herman Deru, mengaku memiliki kenangan masa kecil dengan gulo palu.
Saat mencicipi jajanan tersebut, Feby teringat pengalaman ketika masih anak-anak dan kerap membuat makanan tradisional itu. Baginya, proses pembuatan gulo palu menjadi pengalaman tersendiri karena membutuhkan kesabaran hingga adonan gula mengeras.
“Jadi, makanan seperti gulo palu ini mengingatkan kita pada zaman dahulu. Waktu masih muda atau anak-anak, kita sering membuat gulo palu. Prosesnya melatih kesabaran sampai gulanya menjadi keras,” kenang Feby.
Ia menjelaskan, pembuatan gulo palu memiliki proses yang khas. Adonan harus terus ditarik dan diputar menggunakan stik bambu maupun jemari tangan hingga menghasilkan tekstur yang diharapkan.
Feby juga mengapresiasi keikutsertaan berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Selatan yang menghadirkan aneka makanan khas daerah masing-masing.
Menurutnya, keberagaman kuliner tersebut merupakan kekayaan budaya yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat, terutama anak-anak agar tidak hanya terpaku pada makanan kekinian.
“Anak-anak sekarang harus tahu makanan daerah. Jangan hanya mengenal makanan kekinian, tetapi juga harus mengetahui apa saja makanan khas daerah kita,” pungkasnya.
Festival Jajanan Bingen 2026 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan kekayaan kuliner tradisional Sumatera Selatan. Melalui kegiatan ini, jajanan yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari diharapkan tetap dikenal dan memiliki tempat di tengah perkembangan tren makanan modern.
Dengan demikian, kuliner tempo dulu bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan warisan budaya yang dapat terus dinikmati dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.(YL)





