Ketika Seni Menjadi Doa: Kambang Iwak Menangis dan Menguat untuk Sumatera
Dalam larik-lariknya, banjir bandang dan longsor digambarkan sebagai “darah dan nanah yang muncrat dari perut bumi yang luka,” sebuah peringatan keras atas krisis ekologis di Sumatera. Bersama Anto...
Dalam larik-lariknya, banjir bandang dan longsor digambarkan sebagai “darah dan nanah yang muncrat dari perut bumi yang luka,” sebuah peringatan keras atas krisis ekologis di Sumatera.
Table Of Content
Bersama Anto Narasoma dan Heri Mastari, pembacaan puisi menjadi pembuka yang tenang namun menghunjam. Kisah tentang air yang meluap, rumah yang terendam, dan harapan yang nyaris hanyut mengisi ruang batin penonton.
Dongeng, Musik, dan Gerak Tubuh
Di sela pembacaan puisi, Mas Inug menghadirkan dongeng kemanusiaan yang ringan namun sarat makna. Dongeng tersebut mampu menarik perhatian anak-anak hingga orang dewasa. Dari sisi musik, Zulfikri bersama vokal lembut Alila Najwa menyuguhkan nuansa akustik reflektif yang membungkus taman dengan keheningan penuh makna.
Gerak tubuh berbicara lewat penampilan Sanggar Kharisma yang menampilkan tari tradisi dengan komposisi anggun. Sementara itu, atlet dari Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI) menghadirkan pertunjukan penuh presisi, stamina, dan semangat bangkit.
Pedangdut dari KKPP turut menghibur pengunjung taman dengan lagu-lagu populer. Tanpa sekat, panggung dan penonton melebur, sementara kotak donasi terus beredar dari tangan ke tangan.
Hari Kedua: Ragam Suara, Ragam Rasa
Pada Minggu (28/12/2025), panggung kembali hidup. Gong Sriwijaya memperkuat nuansa tradisi, disusul KPJ, Randi Batanghari 9, dan Rejung Pesirah yang membawa warna etnik dan kontemporer.
Puisi kembali menggema lewat Vebri Al Lintani dan Anwar Puta Bayu. Sementara Maritza Yozza Sandrina memadukan dongeng dan puisi dengan gaya naratif yang hangat.
Gelombang hiburan ditutup oleh Studio 12, Tanjack Kultur, Bucu Band, RMK, dan Iwan KPJ, menjadikan hari penutup sebagai perayaan solidaritas.


