Menag Nasaruddin Umar: Ekoteologi dan Agama Jadi Penjaga Kemanusiaan di Era AI
Ia juga menyambut baik pandangan Menteri Wakaf Mesir bahwa pembangunan peradaban merupakan kewajiban Islam. Sejalan dengan pemikiran cendekiawan Aljazair Malik bin Nabi, Menag menegaskan bahwa peradaban tidak hanya dibangun dari akumulasi materi, tetapi dari fondasi kemanusiaan dan moral yang utuh.
Menurut Menag, persoalan keterbelakangan dan kekosongan nilai tidak dapat diatasi hanya dengan meniru atau mengimpor teknologi maju dari peradaban lain. Solusinya adalah memperbaiki kualitas manusia, membangun kembali relasinya dengan nilai, waktu, dan kerja, serta menanamkan semangat keagamaan sebagai energi moral.
“Peradaban tidak akan bangkit kecuali ketika semangat keagamaan terjaga dalam nurani manusia, bukan sekadar ritual, tetapi sebagai kekuatan moral yang mengendalikan perilaku dan mengarahkan naluri,” ujarnya.
Menjaga Kemanusiaan di Era AI
Lebih lanjut, Menag menilai tantangan terbesar di era kecerdasan buatan bukanlah kecanggihan algoritma, melainkan penjagaan sisi kemanusiaan manusia.
Dunia, kata dia, tidak hanya membutuhkan profesi yang cerdas secara teknis, tetapi juga beretika dan memiliki nurani yang hidup.
“Peran agama hari ini adalah menjadi kompas moral bagi kemajuan teknologi, penjamin martabat manusia, serta penjaga makna kerja dan profesi di tengah dunia yang bergerak sangat cepat,” jelasnya.
Menag juga memaparkan pengalaman Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Pemerintah Indonesia, menurutnya, terus berupaya mengaitkan pendidikan keagamaan dengan nilai-nilai profesional serta memperkuat etika kerja, termasuk dalam merespons perkembangan AI.
Ia menegaskan bahwa kecerdasan buatan, secanggih apa pun, tidak dapat menggantikan nurani keagamaan, ijtihad manusia, dan otoritas etika. AI harus tetap diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai sumber mandiri dalam fatwa atau bimbingan keagamaan.
“Dunia hari ini tidak kekurangan ahli, tetapi kekurangan nilai. Kita membutuhkan akhlak yang kokoh, tanggung jawab peradaban, dan pandangan kemanusiaan yang menyeluruh,” pungkas Menag.


