Pemerataan Dokter Obsgin di Sumsel Masih Jadi Tantangan, Herman Deru Dorong Peran Organisasi Profesi
Mengingat luas wilayah kabupaten/kota di provinsi ini rata-rata mencapai 2.000 kilometer persegi, kebutuhan akan dokter spesialis menjadi sangat besar dan tidak bisa dipenuhi secara parsial. “Upaya...
Mengingat luas wilayah kabupaten/kota di provinsi ini rata-rata mencapai 2.000 kilometer persegi, kebutuhan akan dokter spesialis menjadi sangat besar dan tidak bisa dipenuhi secara parsial.
“Upaya pemerataan ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Perlu peran organisasi profesi untuk mendorong anggotanya mau mengabdi di daerah,” tegas Herman Deru.
Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Provinsi Sumsel berkomitmen menyediakan sarana dan prasarana pendukung, termasuk akses transportasi, fasilitas kesehatan yang layak, serta kenyamanan bagi tenaga medis yang bertugas di daerah. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan minat dokter spesialis untuk mengabdi di luar wilayah perkotaan.
Selain membahas pemerataan tenaga medis, Herman Deru juga mengungkapkan rencana pencanangan program Sumsel Health Tourism dalam waktu dekat. Program ini bertujuan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di dalam negeri, khususnya di Sumatera Selatan.
Ia ingin mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini menganggap berobat ke luar negeri selalu lebih baik dibandingkan layanan kesehatan dalam negeri. Menurutnya, kualitas tenaga medis di Sumsel tidak kalah dan sudah memiliki kompetensi yang memadai.
“Tenaga dokter di Sumsel ini juga baik dan berkualitas. Berobat di dalam negeri tidak kalah dengan berobat di luar negeri,” ujarnya menegaskan.
Sementara itu, mewakili Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sumsel, dr. Hendri Farozah mengingatkan pengurus POGI yang baru dilantik agar tetap solid dan terus berkontribusi bagi peningkatan layanan kesehatan, khususnya kesehatan ibu dan anak.
Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi publik yang baik dalam menangani persoalan kehamilan dan persalinan.
“Menjadi dokter bukan sekadar soal ilmu, tetapi juga tentang kemanusiaan dan menjaga keseimbangan hidup. Ini yang harus terus dijaga oleh profesional dokter di Indonesia,” tutupnya.


