Percayalah, Ngobrol Enggak Penting, Itu Penting
Obrolan berat itu ibarat mesin yang dipaksa kerja terus-menerus. Kalau enggak dikasih pelumas, ya macet dan panas. Saat kita berdebat soal “Kenapa kucing sekarang lebih suka makan gorengan?” atau “yang mana lebih dulu, Telur atau Ayam?”, sebenarnya kita sedang melepas topeng jabatan dan gelar.
Dan semua jenis kepenatan di pikiran.
Di situlah letak kemewahannya. kebahagiaan enggak selalu datang dari rencana besar, tapi dari kenyamanan saat kita berani jadi “enggak penting” di depan sahabat. Kita sedang bilang, “Aku nyaman di dekatmu tanpa perlu jadi orang hebat.” Persaudaraan itu bukan soal seberapa banyak masalah yang kita selesaikan bersama, tapi seberapa banyak kenyamanan yang kita bagi tanpa alasan.
Merawat Kewarasan dengan Ngalor-Ngidul
Tentang kopi hitam, tawa lepas, dan obrolan tanpa arah; mari kita kembali membumi. Jangan merasa bersalah untuk sesekali “membuang waktu” dengan bercanda. Karena dalam tiap tawa yang meledak itu, ada jiwa yang sedang beristirahat dan ada persahabatan yang sedang dirawat.
Mari merawat kewarasan dengan ngalor-ngidul. Karena percayalah, ngobrol enggak penting itu… justru yang paling penting.
Oleh: Ki Edi Susilo
Penikmat Kopi Hitam dengan Sedikit Gula


