Perkuat Peran Penyuluh Agama di Sumsel, dari Transformasi Karir hingga Keberkahan Panggilan Jiwa
Lebih jauh, Direktur Penais memberikan apresiasi mendalam terhadap dedikasi para penyuluh di lapangan. Mukhlis menyebut bahwa menjadi penyuluh adalah panggilan jiwa yang melampaui sekadar profesi formal.
Banyak penyuluh yang merupakan tokoh masyarakat yang sudah mapan, namun tetap memilih berkhidmat untuk umat. Ia juga mengingatkan bahwa keberkahan hidup seorang penyuluh seringkali datang dari jalan yang tidak terduga.
“Mungkin secara materi terlihat cukup atau pas-pasan, tapi ‘pas’ itu artinya: pas butuh, Allah mudahkan. Pas ingin beribadah ke tanah suci, ada jalan melalui bimbingan jemaah. Rasa cinta dan doa dari masyarakat yang kita bina jauh lebih besar nilainya dari tunjangan mana pun,” ungkapnya.
Pembinaan ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi para penyuluh di Sumatera Selatan untuk terus bergerak sebagai sosok pencerah.
Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah yang semakin baik dan ketulusan niat para penyuluh, diharapkan kualitas layanan keagamaan di Sumatera Selatan semakin meningkat dan tetap terjaga dalam kedamaian.
Acara pembinaan yang berlangsung interaktif ini dihadiri Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Al Qur’an dan Hadist Kemenag RI Rijal Ahmad Rangkuti, Ketua LPTQ Sumsel Ahmad Iskandar Zulkarnaen, Kabag Tata Usaha Taufiq, Kepala Bidang Penaiszawa Evi Zurfiana Azom, serta diikuti oleh Penyuluh Agama Islam fungsional maupun honorer se-Sumatera Selatan, baik yang hadir secara luring maupun daring melalui platform zoom meeting.(YL)


