Densus 88 Gelar Transformasi Ideologi, Kakanwil Kemenag Sumsel Soroti Pentingnya Kerukunan

Syafitri juga mengajak peserta memahami keberagaman Indonesia sebagai bagian dari ketetapan Tuhan. Perbedaan suku, etnis, bahasa, wilayah, dan latar belakang, kata dia, semestinya menjadi kekuatan untuk saling mengenal dan melengkapi, bukan alasan untuk membangun permusuhan.
“Allah menciptakan kita berbeda-beda bukan untuk saling membenci atau bermusuhan, melainkan untuk saling mengenal. Pendiri bangsa kita dahulu berjuang keras merekatkan Indonesia hingga lahirlah Bhinneka Tunggal Ika,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menilai kritik dan penyampaian aspirasi tetap diperlukan dalam kehidupan berbangsa. Namun, kebebasan tersebut harus disertai tanggung jawab agar tidak mengganggu persatuan dan kesatuan.
“Kritik dan protestasi itu hal yang baik untuk kemajuan suatu negara. Negara tidak akan maju jika tidak dikritis. Namun, jangan sampai kritik dan protes yang kita lakukan itu justru merusak bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” jelas Syafitri.
Ia menegaskan, pesan menjaga kerukunan dan mengembangkan sikap moderat bukan hanya ditujukan kepada peserta kegiatan, melainkan kepada seluruh masyarakat. Kesadaran tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Turut hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut Kasatgaswil Sumsel Densus 88 Anti Teror Kombes Polisi Beni Kusworo, Direktur Intelkam Polda Sumsel Kombes Polisi Tony Budhi Susetyo, Kaban Kesbangpol Pemprov Sumsel Arinarsa JS, Sekretaris PWNU Sumsel, Ketua Baznas Sumsel, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.(YL)








