Indeks Kerukunan Umat Beragama 2025 Cetak Rekor Tertinggi dalam 11 Tahun
Adapun kebersamaan diartikan sebagai sikap saling bekerja sama dan berbagi manfaat dalam kehidupan bermasyarakat.
Ali Ramdhani menyebutkan, survei dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui wawancara tatap muka dengan kuesioner terstandar. Sebanyak 13.836 responden dipilih menggunakan metode Multistage Random Sampling with Quota, dengan memperhatikan keterwakilan wilayah dan keseimbangan gender.
Survei dilaksanakan pada periode September–November 2025 dengan margin of error ±0,83 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasilnya menunjukkan seluruh indikator berada dalam kategori tinggi. Dimensi toleransi mencatat skor tertinggi yakni 88,82, disusul kesetaraan 79,35, dan kebersamaan 65,49. Dimensi toleransi menjadi penopang utama kerukunan, sementara kebersamaan dinilai masih memerlukan penguatan, khususnya dalam partisipasi lintas komunitas keagamaan.
Secara historis, IKUB nasional menunjukkan tren fluktuatif sejak 2015, dengan skor 75,36 (2015), 75,47 (2016), 72,27 (2017), 70,90 (2018), 73,83 (2019), 67,46 (2020), 72,39 (2021), 73,09 (2022), 76,02 (2023), dan 76,47 (2024).
“Tahun ini, Indeks KUB mencapai 77,89, tertinggi dalam 11 tahun terakhir,” tegas Ramdhani.
Selain IKUB, Kemenag juga merilis Indeks Kesalehan Umat Beragama (IKsUB) 2025 dengan skor 84,61 atau kategori sangat tinggi.
Indeks ini terdiri atas dua dimensi, yakni sosial dan individual. Dimensi sosial mencakup solidaritas, etika sosial, kepedulian lingkungan, hingga etika digital dengan skor 82,00. Sementara dimensi individual yang meliputi ritual, spiritualitas, dan kecerdasan emosional mencapai skor 87,21.
Ali Ramdhani menegaskan, kegiatan Refleksi dan Proyeksi menjadi momentum penting untuk menyusun program kerja Kemenag berbasis data. “Ke depan, seluruh kebijakan dan layanan keagamaan harus disusun berdasarkan hasil pengukuran indeks agar benar-benar berdampak bagi umat,” pungkasnya.


