Bahas Agama hingga AI, 100 Penyuluh Lintas Iman Sumsel Berkumpul di Lokakarya ICRS
Principal Investigator Program RL ICRS, Dr. Leonard Chrysostomos Epafras, menjelaskan bahwa program ini mengusung tagline “Rukun, Ragam, Sepadan”.
Tagline ini dirancang untuk menguatkan peran strategis para peserta dalam memperluas kesadaran akan wacana agama, keragaman, toleransi, serta keadilan sosial.
“Sejak tahun 2017, kami telah melatih lebih dari 1.500 penyuluh agama dari 12 kabupaten/kota. Ruang ini menjadi sangat strategis karena mendorong para penyuluh antariman untuk saling berjumpa dan berlatih bersama,” terang Leonard.
Dari Isu Klasik hingga Era Kecerdasan Buatan (AI)
Selama dua hari lokakarya, para peserta dibekali dengan enam materi utama.
Menariknya, selain membahas isu fundamental seperti negara dan HAM, para penyuluh juga diajak membedah tantangan modern seperti ekologi dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Empat materi awal mengacu pada modul hasil kolaborasi ICRS Fase 1 dengan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag RI, sedangkan dua materi terakhir merupakan pengembangan baru pada Fase 2.
Berikut adalah rincian materi beserta jajaran fasilitator ahli yang dihadirkan:
- Agama & Negara: Dr. H. Syafitri Irwan, S.Ag, M.Pd.I. (Kakanwil Kemenag Sumsel)
- Agama & Martabat Kemanusiaan: Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Si., MA., Ph.D. (Wakil Direktur ICRS)
- Agama & Bina Damai: Qoim Nurani, S.Pd.I., M.Pd. (Instruktur Nasional Moderasi Beragama UIN Raden Fatah)
- Agama & Hak Asasi Manusia: Alip Dian Pratama, S.H., M.H. (Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya)
- Agama & Ekologi: Dr. Michael Quinlan (ICRS-Baylor University).
- Agama & AI (Kecerdasan Buatan): Dr. Leonard Chrysostomos Epafras (ICRS-UGM).
Sebagai informasi, ICRS merupakan konsorsium dari tiga universitas ternama di Indonesia, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), UIN Sunan Kalijaga, dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW).
Dalam menyelenggarakan agenda di Sumatera Selatan ini, ICRS berkoordinasi erat dengan jajaran Tata Usaha Kemenag Sumsel serta mendapat dukungan penuh dari Mennonite Central Committee (MCC) dan Yayasan Kerjasama Perdamaian dan Akademik Indonesia (YKPAI).


