Evaluasi KBK OKI Dorong Layanan JKN Lebih Cepat dan Tepat Sasaran
Kontak peserta (angka kontak), Rasio rujukan non-spesialistik (RRNS) dan Rasio peserta Prolanis terkontrol (RPPT) menjadi indikator utama dalam penilaian KBK.
Edy juga menambahkan, komunikasi sederhana yang terdokumentasi dan dientry ke sistem tetap dihitung sebagai layanan.
“Ini yang kita dorong, agar peserta tetap terpantau meski tidak selalu datang ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Edy mengingatkan pentingnya persiapan kegiatan di luar gedung. Penanggung jawab kegiatan diminta memastikan peserta membawa identitas seperti KTP atau KK agar layanan yang diberikan dapat langsung tercatat dalam sistem.
Di sisi lain, dr Eka Sutriama memberikan sharing terkait capaian KBK. Ia menyampaikan bahwa komunikasi aktif menjadi kunci menjaga keterkendalian pasien.
“Peserta yang sudah lama terdaftar kami hubungi rutin melalui telepon atau WhatsApp. Bahkan, konsultasi bisa dilakukan kapan saja, sehingga kondisi pasien tetap terpantau,” katanya.
Pengalaman serupa disampaikan Dadang Hanura dari Puskesmas Sirah Pulau Padang yang berhasil menjaga capaian KBK melalui pembentukan tim khusus beranggotakan enam orang.
Tim ini bertugas membagi peran, mendata peserta berisiko, hingga melakukan tindak lanjut secara berkala.
“Kami evaluasi capaian di pertengahan bulan melalui aplikasi P-Care. Dari situ terlihat apa yang kurang, lalu langsung kami kejar dengan menghubungi peserta yang bisa ditangani di faskes kami,” ujar Dadang.
Meski demikian, tantangan edukasi peserta masih ditemui, terutama terkait permintaan rujukan ke rumah sakit yang belum sesuai indikasi medis. Hal ini menjadi perhatian bersama agar pemahaman peserta terhadap alur layanan semakin baik.


