Jutaan Umat Rasakan Manfaat Kinerja Kemenag, Ini Capaian 2 Tahun Prabowo-Gibran

JAKARTA, SRIWIJAYATERKINI.CO – Jutaan masyarakat merasakan manfaat berbagai program Kementerian Agama (Kemenag) selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Capaian tersebut mencakup bantuan pendidikan, tunjangan profesi guru, program Makan Bergizi Gratis (MBG), layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi umat.
Dalam pemaparan capaian dua tahun Asta Cita pada Senin (19/10/2026), Kemenag mengungkapkan bahwa program MBG telah menjangkau 6.335.217 siswa dan santri. Sementara itu, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tercatat telah menjangkau 3.209.783 siswa dan santri.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, berbagai program tersebut merupakan bagian dari kontribusi Kemenag dalam mendukung agenda pembangunan nasional, terutama yang berkaitan dengan pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesejahteraan masyarakat, dan penguatan kehidupan beragama.
“Kalau ditanya apa yang ingin kami capai dari seluruh ikhtiar tersebut, jawabannya sederhana dan sekali lagi ini menjadi amanah Presiden Prabowo, yaitu kami ingin kehadiran negara melalui Kementerian Agama semakin dirasakan masyarakat,” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, keberhasilan program pemerintah tidak hanya diukur dari besarnya anggaran atau jumlah kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Bantuan Pendidikan Kemenag Jangkau Jutaan Pelajar dan Mahasiswa
Salah satu sektor yang mendapat perhatian besar adalah pendidikan. Melalui Program Indonesia Pintar (PIP), Kemenag mencatat sebanyak 5.216.294 siswa madrasah serta peserta didik pada satuan pendidikan Kristen, Katolik, dan Hindu telah dijangkau sepanjang 2025–2026.
Program bantuan pendidikan tersebut didukung anggaran sebesar Rp4,07 triliun untuk membantu memperluas kesempatan belajar bagi peserta didik.
Pada jenjang pendidikan tinggi, program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah menjangkau 289.255 mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp3,032 triliun.
Kemenag juga menyalurkan Beasiswa Indonesia Bangkit melalui kerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Pada periode 2024–2025, program tersebut menjangkau 3.659 penerima dengan nilai Rp1,377 triliun.
“Di bidang pendidikan, perhatian utama kami adalah memastikan keterbatasan ekonomi tidak memutus kesempatan anak-anak Indonesia untuk belajar,” tegas Nasaruddin.
Penguatan pendidikan keagamaan turut dilakukan melalui pembangunan Sekolah Tinggi Agama Khonghucu Negeri (SETIAKIN) di Bangka Belitung.
Kesejahteraan Guru Jadi Perhatian Kemenag
Selain memperluas akses pendidikan, Kemenag juga memperkuat dukungan terhadap kesejahteraan tenaga pendidik melalui penyaluran tunjangan profesi guru.
Pada 2025, sebanyak 452.796 guru madrasah dan guru pendidikan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, serta Buddha menerima tunjangan profesi dengan total nilai Rp19,148 triliun.
Pada 2026, jumlah penerima yang tercatat mencapai 671.704 guru dengan alokasi anggaran sebesar Rp25,996 triliun.
Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesejahteraan pendidik sekaligus menunjang peningkatan mutu pembelajaran di madrasah dan satuan pendidikan keagamaan.
Guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai keagamaan, serta meningkatkan kemampuan peserta didik. Karena itu, dukungan terhadap tenaga pendidik menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
MBG Jangkau 6,3 Juta Siswa dan Santri
Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu upaya pemenuhan kebutuhan gizi generasi muda yang turut disoroti Kemenag. Berdasarkan data yang dipaparkan, program tersebut telah menjangkau 6.335.217 siswa dan santri.
Selain pemenuhan gizi, layanan Cek Kesehatan Gratis tercatat telah menjangkau 3.209.783 siswa dan santri.
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i mengatakan, kondisi kesehatan dan kecukupan gizi menjadi faktor penting dalam mendukung proses belajar serta perkembangan anak.
“Anak-anak yang sehat dan tercukupi kebutuhan gizinya tentu memiliki kesempatan yang lebih baik untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan potensinya,” kata Romo Muhammad Syafi’i.
Ia menekankan bahwa pelaksanaan MBG di lingkungan pesantren harus didukung pendataan santri yang akurat, penyaluran makanan yang tepat sasaran, serta pengawasan kualitas makanan.
Menurutnya, keterlibatan pesantren dalam ekosistem program tersebut juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dengan demikian, program MBG tidak hanya mendukung kebutuhan gizi santri, tetapi juga dapat membuka peluang pemberdayaan ekonomi pesantren.
“Pesantren yang kuat harus ditopang oleh santri yang sehat, berkualitas, dan memiliki kesempatan untuk tumbuh,” tegasnya.
Kemenag juga mendorong penguatan kelembagaan pesantren melalui Direktorat Jenderal Pesantren. Penguatan tersebut diarahkan untuk mendukung tiga fungsi utama pesantren, yaitu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.




