Logo dan Tema Hari Santri 2026 Resmi Diluncurkan, Kemenag Siapkan Beragam Agenda

Susun Peta Jalan Pengembangan Pesantren
Kemenag selanjutnya menggelar Halaqah Penguatan Ditjen Pesantren pada 8–9 Oktober 2026.
Forum tersebut diarahkan untuk membahas peta jalan pengembangan pesantren agar lembaga pendidikan berbasis pesantren dapat terus berkembang dan memiliki daya saing.
“Nanti teman-teman pesantren akan mencoba menciptakan semacam road map, peta jalan Pondok Pesantren ke depan,” kata Menag.
Basnang mengatakan, pemerintah daerah juga akan dilibatkan dalam agenda tersebut, terutama gubernur, bupati, dan wali kota dari daerah yang telah memiliki peraturan daerah tentang pesantren.
“Untuk provinsi-provinsi lain yang belum memiliki perda, tentu kita berharap mereka dapat segera menyusunnya sebagai langkah untuk mendukung pelaksanaan program-program pesantren,” ujar Basnang.
Forum Akademik hingga Festival Sarung dan Peci
Agenda Hari Santri 2026 berlanjut dengan Mu’tamad Santri pada 14–15 Oktober. Forum akademik ini diarahkan untuk memperkuat mutu pendidikan pesantren, memperluas jejaring kerja sama internasional, sekaligus mendorong pengembangan pesantren yang memiliki daya saing global.
Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung secara hybrid dengan sekitar 250 peserta hadir secara langsung dan 500 peserta mengikuti secara daring.
Sehari setelahnya, pada 16 Oktober, Kemenag menyiapkan Festival Sarung dan Peci Santri. Kegiatan ini mengangkat sarung dan peci sebagai bagian dari identitas pesantren sekaligus budaya Indonesia.
“Karena salah satu identitas Pondok Pesantren itu sarung dan peci. Kita bisa meraih perkembangan ke depan yang lebih bagus tanpa harus meninggalkan tradisi asli kita, bangsa Indonesia. Itulah Pondok Pesantren,” ujar Nasaruddin.
Expo Tampilkan Produk dan Kemandirian Pesantren
Kemandirian ekonomi pesantren juga menjadi bagian dari rangkaian Hari Santri melalui Expo Kemandirian Pesantren yang berlangsung 16–24 Oktober 2026.
Expo tersebut akan digelar di Lapangan Banteng, Jakarta, dan menampilkan berbagai produk hasil pengembangan usaha pesantren.
Basnang menyebut, sejak 2021 hingga 2025 terdapat 4.185 pesantren yang memperoleh bantuan inkubasi. Sebagian di antaranya kemudian berkembang menjadi Badan Usaha Milik Pesantren (BUMPES).
“Ini penting karena sejak tahun 2021 sampai 2025 ada 4.185 pesantren yang mendapatkan bantuan inkubasi. Dari 4.185 pesantren tersebut, kemudian bertransformasi menjadi BUMPES, Badan Usaha Milik Pesantren. Inilah yang nanti kira-kira akan kita minta untuk memamerkan produk-produknya,” ujar Basnang.
Produk yang akan ditampilkan antara lain makanan dan minuman, buku, pakaian khas Nusantara, serta berbagai produk lainnya.
Menurut Basnang, expo tersebut sekaligus menjadi wadah untuk memperlihatkan perkembangan kewirausahaan pesantren dan kontribusinya terhadap perekonomian masyarakat.
Upacara Hari Santri Digelar 22 Oktober
Puncak peringatan Hari Santri akan ditandai dengan Upacara Hari Santri pada 22 Oktober 2026.
Tanggal tersebut menjadi momentum tahunan untuk memperingati Hari Santri sekaligus mengenang peran santri dan ulama dalam sejarah perjuangan bangsa.
“Upacara Hari Santri, yang nanti kita akan tradisikan itu. Setiap tanggal 22 Oktober itu kita peringati sebagai Hari Santri,” kata Menag.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan Malam Bakti Santri untuk Negeri yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober 2026 di Istora Senayan, Jakarta.
Basnang mengatakan, acara tersebut akan digerakkan oleh Menteri Agama dan Wakil Menteri Agama. Kemenag juga berencana mengundang Presiden Prabowo Subianto.
“Dalam minggu-minggu ini kami akan menyampaikan surat kepada beliau, tentu melalui Pak Menteri Agama, untuk mengundang Bapak Presiden agar hadir dalam Malam Bakti Pesantren untuk Negeri,” ujar Basnang.
Dengan rangkaian kegiatan tersebut, Hari Santri 2026 tidak hanya menghadirkan peringatan seremonial, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan aspirasi, kreativitas, pendidikan, budaya, hingga kemandirian ekonomi pesantren.(YL)











