Menag Nasaruddin Umar Hadiri Forum Perdamaian Dunia di Italia, Bawa Pesan Dialog Lintas Agama

Keikutsertaan Menag dalam forum perdamaian di Assisi juga melanjutkan semangat Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani bersama Paus Fransiskus pada 2024.
Deklarasi tersebut menjadi salah satu landasan penting dalam memperkuat kerja sama lintas agama, terutama dalam menghadapi persoalan kemanusiaan dan mendorong kepedulian terhadap lingkungan.
Pertemuan Assisi tahun ini juga bertepatan dengan peringatan 40 tahun Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang pertama kali dicetuskan Paus Yohanes Paulus II pada 1986.
Rangkaian kegiatan mencakup 24 forum tematik yang membahas berbagai persoalan perdamaian. Acara dijadwalkan ditutup pada 27 Oktober 2026 melalui upacara perdamaian di Basilika Santa Maria degli Angeli, Assisi, dengan kehadiran Paus Leo XIV.
“Melalui keikutsertaan ini, Indonesia menegaskan kembali perannya sebagai jembatan perdamaian dunia, mendorong pesan bahwa di tengah maraknya konflik global, perdamaian yang tulus dan tanpa kekerasan adalah hal yang selalu mungkin untuk diwujudkan,” kata Nasaruddin.
Selain mengikuti forum internasional, kunjungan Nasaruddin ke Italia juga akan dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan dan kerja sama Indonesia dengan Takhta Suci Vatikan.
Adiyarto Sumardjono menjelaskan, Menag dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Takhta Suci Vatikan untuk membicarakan berbagai peluang kolaborasi antarnegara, khususnya dalam pengembangan dialog antarumat beragama.
Dalam pertemuan itu, Nasaruddin juga akan menyampaikan harapan agar Paus Leo XIV berkenan berkunjung ke Indonesia dan melihat secara langsung kehidupan masyarakat yang beragam serta perkembangan hubungan antarumat beragama di Tanah Air.
Agenda lainnya adalah membahas peluang kerja sama dengan PISAI (Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica), lembaga kepausan yang berfokus pada studi Arab dan Islam.
Menurut Adiyarto, lembaga tersebut memiliki perhatian terhadap kajian teologi, budaya Arab, serta dialog antara umat Islam dan Kristen. PISAI juga dikenal memiliki koleksi perpustakaan yang mendukung penelitian mengenai Islam dan tradisi keagamaan.
Rangkaian agenda tersebut diharapkan memperluas ruang kerja sama akademik dan keagamaan sekaligus memperkuat hubungan Indonesia dengan Vatikan.
Melalui diplomasi keagamaan, Indonesia berupaya menunjukkan bahwa dialog, penghormatan terhadap perbedaan, dan aksi kemanusiaan dapat menjadi jalan bersama untuk merawat perdamaian dunia.(YL)




