Mafesripala Gelar Seminar Umum Green Impact di Unsri Palembang, Bahas Dampak Ekonomi Karhutla

PALEMBANG, SRIWIJAYATERKINI.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) sepanjang 2026 tidak hanya memicu kabut asap, tetapi juga mengancam penghasilan masyarakat dan merusak sumber penghidupan yang bergantung pada ekosistem gambut.
Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam Seminar Umum Green Impact bertajuk “Menghitung Kerugian, Membangun Solusi: Analisis Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan Terhadap Perekonomian di Sumatera Selatan” yang digelar Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya Pecinta Alam (Mafesripala), Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Magister Manajemen Universitas Sriwijaya, Bukit Palembang, lantai 3, itu diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, pers, dan praktisi. Sejumlah narasumber dihadirkan untuk membahas dampak karhutla sekaligus mencari solusi pencegahan dan pemulihan lingkungan.
Ketua Umum Mafesripala, Pandu Rama Wijaya, mengatakan seminar tersebut diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan langkah nyata untuk mengatasi persoalan karhutla di Sumsel.
“Karena kita melihat kondisi karhutla di Sumsel ini menyebabkan sektor perekonomian masyarakat terhambat. Untuk itulah kita gelar kegiatan ini,” ujarnya.
Menurut Pandu, pembahasan mengenai karhutla perlu diperluas agar masyarakat memahami bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan lingkungan. Dampaknya juga berkaitan dengan keberlangsungan aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Karhutla Sumsel Meluas, Lahan Gambut Sulit Dipadamkan
Fungsional Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBD Sumsel, Wibowo, menjelaskan, penanganan karhutla pada 2026 menghadapi tantangan besar. Kondisi cuaca kering, karakteristik lahan gambut, keterbatasan sumber air, serta sulitnya akses menuju titik kebakaran menjadi faktor yang menyulitkan proses pemadaman.
Ia menyebut kondisi karhutla tahun ini sangat berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, fenomena iklim yang diperkirakan terjadi lebih kuat pada periode mendatang turut menjadi perhatian dalam menghadapi ancaman kebakaran.
“Sebagian besar yang terbakar adalah lahan gambut. Jika gambut terbakar, akan sulit dipadamkan selagi lahannya kering, sumber air tidak ada dan jauh, serta sulitnya akses ke titik lokasi. Karena itu, dampak asapnya masuk ke Kota Palembang,” kata Wibowo.
Ia menyebut empat kabupaten yang menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla di Sumsel, yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Musi Banyuasin, dan Banyuasin. Sementara itu, wilayah rawan karhutla mencakup 10 kabupaten/kota, termasuk Palembang.
Dampak kabut asap juga menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lanjut usia, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, serta warga yang bekerja atau beraktivitas di luar ruangan.
Wibowo menambahkan, penetapan status siaga karhutla dilakukan melalui sejumlah tahapan, termasuk mempertimbangkan informasi cuaca dari BMKG dan koordinasi lintas sektor.
“Setelah berkoordinasi, kita harus menyiapkan sarana dan prasarananya, serta posko penanggulangan karhutla,” ujarnya.
Kesiapan personel, peralatan, dan posko menjadi bagian penting dalam upaya mengantisipasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat ketika titik api ditemukan.
Penghasilan Warga Terganggu, Kerugian Berlanjut Setelah Api Padam
Kepala Legal Forest Greenpeace Indonesia, Asep Komarudin, menilai dampak ekonomi karhutla tidak hanya dirasakan ketika kebakaran berlangsung. Kabut asap dapat menghambat pekerjaan warga yang menggantungkan penghasilan pada aktivitas di luar ruangan.
Selain kehilangan pendapatan harian, masyarakat juga menghadapi ancaman kerusakan sumber daya alam yang selama ini menopang kehidupan mereka.
“Lahan yang dikelola sehari-hari juga hilang karena karhutla, sehingga terjadi kerugian ekonomi secara langsung. Apalagi dampak karhutla adalah pelepasan karbon yang memicu krisis iklim,” ujarnya.






