Ketika Santri Zidny Ilma Belajar Menerjemahkan Alquran Kata demi Kata
Menurut Ahirman, pembelajaran Alquran selama ini sering berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal.
Padahal, memahami makna ayat merupakan pintu penting untuk menghadirkan Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
Ia lalu mengajukan pertanyaan sederhana yang mengundang renungan: bagaimana seseorang dapat mengamalkan ayat yang dibacanya jika ia sendiri belum memahami maknanya?
Dari pertanyaan itulah lahir gagasan agar ilmu terjemahan Alquran menjadi pelajaran wajib di Pesantren Zidny Ilma.
Bagi Ahirman, santri masa depan tidak cukup hanya menjadi penghafal, tetapi juga harus memiliki kemampuan memahami pesan-pesan Alquran secara mendalam.
“Ke depan kami ingin menghadirkan pembelajaran Alquran yang kreatif dan inovatif. Santri bukan hanya fasih membaca, tetapi juga mampu memahami kandungan ayat,” katanya.
Pendekatan itu terasa menarik karena memadukan tradisi pesantren klasik dengan kebutuhan pendidikan modern.
Ilmu sharaf dan nahwu yang selama ini dianggap berat justru diajarkan secara aplikatif melalui praktik langsung terhadap ayat Alquran.
Hasilnya terlihat pada penampilan para santri sore itu. Mereka membaca, menerjemahkan, lalu mengurai struktur bahasa Arab dengan percaya diri di hadapan publik.
Haflah Akhirussanah tersebut turut dihadiri berbagai unsur pemerintah dan tokoh masyarakat. Bupati Banyuasin yang diwakili Staf Ahli Bidang Infrastruktur, Ekonomi, dan SDM, Dr H Salni Fajar, menyampaikan apresiasi terhadap upaya pesantren dalam membangun generasi muda yang berkarakter dan bertauhid.


