MUI Muara Enim dan PT TEL Menyatukan Dakwah, Spiritual dan Pemberdayaan Masyarakat
PT TEL pun membuka peluang kerja sama lebih luas bersama MUI, mulai dari pelatihan juru sembelih halal (Juleha), pengiriman khatib Jumat, pelatihan pengurusan jenazah, hingga pendampingan sertifikasi halal bagi UMKM.
Di tengah dialog yang berlangsung hangat itu, muncul pula pembahasan tentang keselamatan kerja. Namun kali ini, sudut pandangnya berbeda.
Anggota Dewan Pertimbangan MUI Muara Enim, KH Taufik Hidayat, mengingatkan bahwa budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tidak cukup hanya dibangun melalui aturan dan prosedur teknis.
Pendiri Pondok Pesantren Pondok Pesantren Laa Roiba itu menilai keselamatan kerja juga membutuhkan kesadaran spiritual.
“Orang yang bekerja dengan kesadaran bahwa pekerjaannya adalah amanah, akan lebih berhati-hati dan bertanggung jawab,” katanya.
Ucapan itu membuat suasana ruangan sejenak hening. Sebab di balik hiruk-pikuk mesin industri, manusia tetap menjadi pusat utama yang harus dijaga—bukan hanya keselamatannya, tetapi juga jiwanya.
Audiensi siang itu akhirnya ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi antara MUI Muara Enim dan PT TEL dalam bidang dakwah, pendidikan umat, ekonomi syariah, serta pembinaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Di luar gedung, aktivitas industri terus berjalan seperti biasa. Cerobong pabrik tetap mengepul, kendaraan operasional hilir mudik. Namun di dalam ruang pertemuan itu, sebuah gagasan sederhana sedang dirawat: bahwa dakwah dan industri tidak harus saling berjauhan. Keduanya dapat berjalan bersama, menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas bagi umat dan masyarakat. (imron supriyadi)


