MUI Muara Enim dan PT TEL Menyatukan Dakwah, Spiritual dan Pemberdayaan Masyarakat
Bagi Solihan, ulama dan dunia usaha bukan dua kutub yang berjauhan. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan untuk membangun masyarakat yang lebih berdaya. Ia menyebut MUI menaungi banyak organisasi Islam, mulai dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, hingga Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia.
“Kalau semuanya bergerak bersama, insya Allah manfaatnya akan lebih luas,” katanya.
Menariknya, diskusi siang itu tidak hanya berhenti pada program-program dakwah yang lazim. MUI Muara Enim juga mengangkat tema fikih kontemporer yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah persoalan halal dalam usaha laundry.
Menurut Solihan, pakaian yang dipakai untuk salat bukan hanya harus bersih, tetapi juga suci. Karena itu, proses pencucian, bahan pembersih, hingga tata cara pengelolaannya perlu dikaji secara fikih.
“Sekarang masyarakat banyak menggunakan laundry. Maka kita perlu memastikan prosesnya juga memenuhi syarat kesucian dalam Islam. Ini bagian dari kajian fikih kontemporer,” jelasnya.
Gagasan itu mendapat perhatian serius dari pihak perusahaan. Sebab di tengah modernisasi industri, kebutuhan terhadap penguatan spiritual justru semakin dirasakan.
HR & CA Director PT TEL, Mochamad Amrodji, mengakui bahwa teknologi secanggih apa pun tetap tidak dapat menggantikan kebutuhan manusia terhadap nilai-nilai agama.
“Pada akhirnya manusia tetap membutuhkan pertolongan Allah SWT. Karena itu, kami berharap ada penguatan pengetahuan agama, baik di lingkungan perusahaan maupun masyarakat sekitar,” ujarnya.


