Hari Santri 2026, Kemenag Siapkan 5 Program Strategis untuk Masa Depan Pesantren

Dengan pendekatan tersebut, pesantren diharapkan tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui penciptaan peluang usaha dan lapangan kerja.
“Program ini juga akan mengawal kemandirian ekonomi pesantren,” kata Nasaruddin.
- Santri 5.0, memadukan ilmu agama dan keterampilan
Program keempat, Santri 5.0, berfokus pada peningkatan kompetensi santri agar mampu menghadapi perubahan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Penguatan keterampilan praktis, literasi teknologi, kemampuan beradaptasi, serta pembentukan karakter menjadi bagian dari upaya mempersiapkan santri yang berdaya saing.
Kemenag menilai penguasaan ilmu agama perlu berjalan beriringan dengan kemampuan lain yang dibutuhkan dalam kehidupan modern.
“Ilmu agama dan keterampilan, keduanya penting sebagai bekal santri menatap masa depan,” papar Nasaruddin.
Melalui program ini, santri diharapkan mempunyai kesempatan lebih besar untuk berkiprah di berbagai sektor tanpa meninggalkan identitas dan nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar pendidikan pesantren.
- Dakwah digital untuk menjangkau generasi muda
Program kelima adalah pengembangan dakwah digital dengan mempersiapkan dai dan daiyah yang mampu memanfaatkan media sosial, AI, algoritma platform, serta teknik pembuatan konten kreatif.
Langkah ini menjadi respons terhadap perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi dan pengetahuan keagamaan, terutama di kalangan generasi muda.
Kehadiran dai dan daiyah di ruang digital diharapkan memperluas jangkauan dakwah yang santun, moderat, dan berlandaskan keilmuan Islam.
Meski memanfaatkan teknologi, pengembangan dakwah digital tetap diarahkan agar berpijak pada kedalaman ilmu agama dan kesinambungan sanad keilmuan pesantren.
“Santri harus juga hadir secara kreatif dan relevan di ruang digital. Sehingga dakwah yang santun dan moderat menjadi lebih dekat dengan generasi muda,” tandasnya.
Resolusi Jihad Jadi Pengingat Peran Santri bagi Bangsa
Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober berakar pada sejarah perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyerukan perlawanan terhadap ancaman terhadap kemerdekaan Indonesia. Semangat tersebut menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian perjuangan rakyat yang berpuncak pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Nasaruddin mengingatkan bahwa pesantren memiliki peran historis dalam perjalanan bangsa, tidak hanya dalam menjaga nilai-nilai agama, tetapi juga dalam membangun semangat kebangsaan.
“Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa ketika kedaulatan bangsa terancam, seruan perlawanan sangat dahsyat lahir dari dinding-dinding pesantren, digelorakan oleh kaum sarungan, dan dihidupi oleh jiwa para santri,” ujarnya.
Melalui lima program tersebut, Kemenag berharap pesantren semakin kuat sebagai lembaga pendidikan, pusat pembentukan karakter, serta ruang pengembangan potensi generasi muda.
Penguatan perlindungan, pengakuan pendidikan, kemandirian ekonomi, kompetensi, dan dakwah digital diharapkan dapat memperluas kontribusi santri dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.(YL)




